
Kategori: Sastra/Novel Historis
The Kite Runner
Khaled Hosseini
Qanita, Maret 2006
618 hal.
Rp. 58.500,00
Perang Dingin, perang antara dua ideologi besar di dunia, Amerika mewakili ideologi liberal dan Uni Soviet yang berideologi komunis, ternyata turut mempengaruhi perkembangan negara-negara di dunia. Afghanistan merupakan salah satu medan peperangan dua blok tadi pada periode itu.
Afghanistan merupakan suatu bentuk negara Monarki sejak tahun 1747. Namun sejak tahun 1973, Raja Zahir Shah, yang telah 40 tahun bertahta, digulingkan oleh kudeta militer tidak berdarah yang dipimpin oleh sepupunya sendiri, Daoud Khan. Dan sejak saat itu, Afghanistan diproklamirkan sebagai negara Republik. Pada tahun 1979, pasukan militer Uni Soviet, menginvasi negara tersebut, menandakan awal mulanya Perang Afghan-Soviet. Ketika Tembok Berlin runtuh di akhir 1990-an, Uni Soviet menarik pasukannya dari Afghanistan. Pada 1996, Taliban, kelompok islam fundamentalis, berhasil menguasai pemerintahan di Kabul.
Pada 11 September 2001, yang lebih dikenal dengan istilah 9/11, lambang hegemoni ekonomi (World Trade Center/WTC) dan militer AS (Pentagon), menjadi sasaran penyerangan oleh kelompok teroris yang diduga adalah bagian dari Taliban. Koalisi pasukan militer AS dan Inggris memaksa masuk ke Afghanistan, dan mendorong Taliban untuk mencopot kekuasaannya di negara tersebut pada tahun 2001.
Afghanistan terdiri dari beberapa kelompok etnis. Mayoritas penduduknya adalah Muslim, yang terbagi menjadi kelompok Sunni dan Syiah. Orang-orang Pashtun, yang Muslim-Sunni, merupakan kelompok etnik dominan yang hampir mengisi dua per lima penduduk negara tersebut. Terdapat kelompok lain, suku bangsa Tajiks (yang berasal dari Iran), Hazara (suku bangsa minoritas Muslim-Syiah), Nuristan, Uzbek, Turkmen, serta Kyrgyz.
The Kite Runner, karya Khaled Hosseini, bersetting di Afghanistan dalam periode waktu 1970-an sampai 2002-an. Bercerita tentang seorang anak Afghanistan bernama Amir, dalam hubungannya dengan keluarga serta sahabatnya. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Karena itu ia tinggal berdua saja dengan Baba-nya (ayah), ditemani oleh pembantunya, Ali serta anaknya Hassan—si pengejar layang-layang yang berbibir sumbing. Ia menganggap bahwa merupakan kesalahannyalah ibu-nya meninggal, dan inilah yang membuat ayahnya bersikap dingin serta menjaga jarak darinya. Amir dan Ayahnya adalah seorang Pashtun, sedangkan Ali dan Hassan adalah seorang Hazara. Kondisi Afghanistan pada saat itu mempengaruhi hubungan Amir dan Hassan, karena Hassan hanyalah seorang Hazara yang miskin, ia dianggap tidak layak disebut sebagai “teman”. Bagi Amir kecil, Hassan yang pada dasarnya ia anggap sebagai saudaranya, hanyalah pembantunya yang polos dan mudah dipermainkan.
Bagi Hassan, Amir adalah segalanya. Dia guru, sahabat, saudara serta tempatnya mengabdikan diri. Ia mempercayainya, membelanya, menolongnya, mengalah padanya, bukan karena ia diwajibkan berbuat demikian, tetapi karena Hassan sangat menyayangi Amir. Kesetiaannya pada Amir benar-benar luar biasa. Hassan si pengejar layang-layang berbibir sumbing, menempati tempat tersendiri di hati saya.
Hingga musim dingin tahun 1975 terjadilah peristiwa yang membuat Amir hingga saat ia dewasa, selalu dihantui perasaan bersalah. Peristiwa yang menghantuinya dan mengubah segalanya. Peristiwa yang membuatnya menjadi dirinya yang sekarang. Peristiwa itu pun terbawa hingga tahun 2002, di mana Amir yang telah bermigrasi ke luar negeri, harus kembali ke Afghanistan, tempat yang telah ditinggalkannya 27 tahun yang lalu, dan menolong seorang bocah yang belum pernah dikenalnya.
“Mungkin ini tidak adil, tapi sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah jalan hidup seseorang, Amir,” katanya. (hlm. 236-237)
Buku ini benar-benar luar biasa! Perasaan saya diaduk-aduk ketika membacanya. Rasa terharu, muak, sedih, tegang, marah, dan kecewa bercampur baur dalam pikiran saya. Saya hampir menangis, dalam bagian ketika Ali dan Hassan memutuskan pergi dari rumah Baba dan Amir, sementara Baba sampai memohon-mohon untuk menghentikannya. Cuma itu yang membuat saya hampir menangis, sementara yang lainnya saya benar-benar menangis.
Buku ini adalah bacaan yang menimbulkan tantangan tersendiri dalam membacanya. Pada mulanya saya merasa tersesat, ketika Amir bercerita tentang “peristiwa di musim dingin 1975 yang mengubah segalanya”. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Karena Khaled Hosseini sama sekali tidak memberikan petunjuk apapun sampai sekitar halaman 125-an. Belum apa-apa kita dibuat penasaran.
Buku ini salah satu dari sedikit buku yang bisa mempengaruhi kehidupan saya. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau ternyata Hassan bukan seorang Hazara? Kalau Ali, ternyata tidak terkena polio? Atau Ibu Hassan tidak meninggalkan mereka? Semuanya pada mulanya tidak tampak saling berhubungan, tetapi detil-detil kecil itu tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. Khaled Hosseini menggambarkan bagaimana Tuhan mengambil peranan dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Khaled pun berhasil mengangkat isu-isu sensitif, dan mempengaruhi kita secara tidak langsung akan penilaiannya itu. Sebut saja, diskriminasi ras, agama/kepercayaan, serta gender yang merupakan tradisi masyarakat Afghanistan.
The Kite Runner mengambil judul dari tradisi “mengejar layang-layang” di Afghanistan. Setiap musim dingin, di semua daerah di Kabul, diadakan turnamen layang-layang. Turnamen ini dimulai pagi-pagi sekali dan baru berakhir ketika hanya terdapat satu layang-layang yang terbang di langit. Namun yang membuatnya menarik tidak hanya menerbangkan layangan, tetapi ketika setiap peserta berlarian mengejar layangan terakhir yang putus, dan jika berhasil mendapatkannya maka ia pun berhak mendapat predikat yang sejajar dengan pemenang layang-layang tadi.
Hmmm, tradisi yang sangat biasa bagi kita, orang Indonesia. Setiap musim kemarau, dan dipastikan kondisi cuaca yang sangat berangin, anak-anak Indonesiapun melakukan hal yang sama. Akhir-akhir ini di komplek perumahan saya pun sedang marak perlombaan adu layangan. Sampai-sampai pohon besar di depan komplek perumahan yang daun-daunnya luruh berterbangan, penuh dengan layang-layang yang tersangkut didahannya.
Saya pun pernah menjadi seorang kite runner. Tapi hanya sekedar berlari, dan tidak pernah berhasil sekalipun mendapatkannya. Sungguh berbeda dengan kegigihan Hassan dalam mengejar layang-layang.
-nat-
Buku ini salah satu dari sedikit buku yang bisa mempengaruhi kehidupan saya. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau ternyata Hassan bukan seorang Hazara? Kalau Ali, ternyata tidak terkena polio? Atau Ibu Hassan tidak meninggalkan mereka? Semuanya pada mulanya tidak tampak saling berhubungan, tetapi detil-detil kecil itu tidak mungkin hanya sebuah kebetulan. Khaled Hosseini menggambarkan bagaimana Tuhan mengambil peranan dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Khaled pun berhasil mengangkat isu-isu sensitif, dan mempengaruhi kita secara tidak langsung akan penilaiannya itu. Sebut saja, diskriminasi ras, agama/kepercayaan, serta gender yang merupakan tradisi masyarakat Afghanistan.
The Kite Runner mengambil judul dari tradisi “mengejar layang-layang” di Afghanistan. Setiap musim dingin, di semua daerah di Kabul, diadakan turnamen layang-layang. Turnamen ini dimulai pagi-pagi sekali dan baru berakhir ketika hanya terdapat satu layang-layang yang terbang di langit. Namun yang membuatnya menarik tidak hanya menerbangkan layangan, tetapi ketika setiap peserta berlarian mengejar layangan terakhir yang putus, dan jika berhasil mendapatkannya maka ia pun berhak mendapat predikat yang sejajar dengan pemenang layang-layang tadi.
Hmmm, tradisi yang sangat biasa bagi kita, orang Indonesia. Setiap musim kemarau, dan dipastikan kondisi cuaca yang sangat berangin, anak-anak Indonesiapun melakukan hal yang sama. Akhir-akhir ini di komplek perumahan saya pun sedang marak perlombaan adu layangan. Sampai-sampai pohon besar di depan komplek perumahan yang daun-daunnya luruh berterbangan, penuh dengan layang-layang yang tersangkut didahannya.
Saya pun pernah menjadi seorang kite runner. Tapi hanya sekedar berlari, dan tidak pernah berhasil sekalipun mendapatkannya. Sungguh berbeda dengan kegigihan Hassan dalam mengejar layang-layang.
-nat-




4 orang yang berkomentar:
Salam,
Teman-teman yang sudah membaca novel ini ditunggu komentarnya. Karena bagi teman-teman yang memberi komentar tentang buku ini berkesempatan mendapatkan paket buku senilai Rp. 300.000,-. Hadiah ini akan diberikan kepada 2 orang komentator yang beruntung.
Kemana kirimnya? Ke friendster Qanita aja.... http://www.friendster.com/profiles/qanitabooks bikin testimonial di sana kalo belum add, cepat gabung... alamat imelnya qanita@mizan.com. Buat teman-teman yang sudah berkomentar tapi belum kasih terstimonial di Friendster... ya tinggal kasih testimonial aja ya... hehehe
Ditunggu komentarnya hingga 31 Juli 2006
Terima kasih,
-Dody
oooppsss...mw cross-check bentar. Tembok Berlin runtuh bukan "di akhir" 1990-an, tapi "di akhir" 1980-an, atau bisa juga disebut "di awal" 1990-an. Hehehehe... maap atas kesalahanku kawan.
Buku yang sangat menyentuh, baru saja Hosseini mengeluarkan buku yang juga menceritakan tentang dua wanita di Afghan, "A Thousand Splendid Suns". Juli 2007 ini saya akan datang di acaranya Hosseini, moga-moga dapat tanda tangannya ya :)
Bejan, Kanada
yaaahh...
sayah br liat ada kontes qanita ini
sayah wkt itu pernah bikin review di blog fs sih
trus pantesan qanita nge-add fs sayah
eh baru tau ada contest ini
yaahh tau gitu ikutan deeehh :(
Post a Comment