Judul: The Liebermann Papers—A Death in Vienna
Judul Asli: Mortal Mischief
Pengarang: Frank Tallis
Penerjemah: Esti A. Budihabsari
Penerbit: Qanita
Tahun: 2007
Tebal: 580 hal; 20,5 cm
Harga: Rp. 59.000,00
Judul Asli: Mortal Mischief
Pengarang: Frank Tallis
Penerjemah: Esti A. Budihabsari
Penerbit: Qanita
Tahun: 2007
Tebal: 580 hal; 20,5 cm
Harga: Rp. 59.000,00
Para penggemar cerita-cerita detektif, dan kisah-kisah misteri, pasti akan bertepuk tangan senang saat ini. Frank Tallis, seorang psikolog yang gemar menulis, menciptakan tokoh detektif baru yang menggunakan metode-metode psikologi dalam mengungkap sebuah kasus. Diterbitkan dalam serial : The Liebermann Papers, Penerbit Qanita telah menerjemahkan novel pertama Frank Tallis, yang berjudul asli Mortal Mischief ini.
Tampaknya, novel misteri yang berdasarkan pada tokoh-tokoh nyata yang pernah hidup, telah membuat gelombang baru dalam dunia kesusastraan. Sebut saja, The Dante Club karangan Matthew Pearl, yang tokoh utamanya adalah para sastrawan Inggris yang hidup di sekitar tahun 1800-an, atau The Interpretation of Murder karya Jed Rubenfeld, yang mendasarkan kisahnya pada Sigmund Freud dan gerakan-gerakan Psikoanalisa-nya ketika mereka berkunjung ke Amerika. Belum lagi ada The Historian, karya Elizabeth Kostova. Dan uniknya, tema-tema novel seperti ini laku keras. Rasanya menarik jika kita menelusuri interpretasi masing-masing penulis, yang tetap bertegang teguh pada fakta tapi juga membiarkan khayalannya terbang bebas, mengenai tokoh-tokoh yang pernah hidup tersebut.
Covernya memunculkan kesan elegan di satu sisi, tapi di sisi lain juga menimbulkan kesan mencekam dan putus asa. Begitu lihat covernya, tanpa membaca bagian endorsement di belakangnya, saya langsung tahu, novel ini bercerita tentang “pembunuhan”. Belum lagi judulnya “A Death in Vienna” (yang ternyata bukan judul asli-nya), membuat saya teringat buku karya Thomas Mann, A Death in Venice. Kisah seorang penulis yang jatuh cinta dengan seorang anak lelaki Polandia. Sebenarnya ini yang hendak saya tanyakan. Pasti ada alasan mengapa Qanita sendiri mengambil judul yang jauh berbeda dengan judul aslinya. Apa ceritanya hampir sama dengan novel karya Thomas Mann tadi? Atau hanya ingin menceritakan isi novel ini, bahwa “kematian telah terjadi di Wina”?
Tapi terus terang, pilihan judul “A Death in Vienna” benar-benar tepat menurut saya. Jika, Qanita menerbitkan buku ini sesuai dengan judul asli-nya “Mortal Mischief” mungkin saya tidak akan pernah membeli buku ini. Hehe…
Tokoh utama dalam serial The Liebermann Papers ini adalah Max Liebermann sendiri, seorang psikiater, dan Oskar Rheinhardt, seorang inspektur polisi di Wina yang juga sahabat karib Liebermann.
Beda sama The Interpretation of Murder (IOM) yang bersetting di Amerika, buku ini mengambil latar belakang Eropa, ketika Sigmund Freud masih baru diangkat menjadi professor, berarti sekitar tahun 1902, gelar yang diterimanya dari Universitas Wina (Vienna University). Berbeda dengan orang-orang Amerika yang lebih “terbuka” dalam menyikapi teori psikoanalisa Freud, di Eropa pada masa awal perkembangannya justru sebaliknya. Ajaran Freud dianggap sebagai ajaran setan dan mesum. Belum lagi muncul sentimen-sentimen anti-semit yang membuat Freud kurang dihargai di Wina.
Vienna atau Wina saat itu sedang dilanda badai besar, ketika sesosok mayat seorang wanita ditemukan tewas di ruang tamunya. Bersama dengan mayat itu, terdapat sebuah surat pernyataan bunuh diri. Tubuh itu ternyata adalah seorang cenayang cantik yang bernama Charlotte Lowenstein. Ada tiga hal aneh yang ditemukan oleh Inspektur Rheinhardt, pertama, Fraulein Lowenstein ditembak, namun tidak ditemukan satupun senjata yang menembaknya. Kedua, kamar tempat wanita itu ditemukan, ternyata terkunci dari dalam. Jika kasus itu kasus bunuh diri, kemanakah senjata yang telah menembak mati Lotte? Dan jika kasus tersebut bukan bunuh diri, maka jelaslah pelaku adalah seseorang—atau sesuatu—yang dapat berjalan menembus dinding. Ketiga, peluru yang “membunuh” Fraulein Lowenstein tidak ditemukan. Yang ditemukan justru sebuah patung Dewa Badai, Seth, yang berada dalam kotak yang terkunci dari dalam. Apakah yang membunuh wanita itu adalah Sang Dewa Badai? Atau hanya ilusi buatan manusia semata?
Setiap bab menceritakan tempat, tokoh, waktu dan kejadian yang berbeda, sampai-sampai saya sulit mengingat tokoh-tokoh itu, saking banyaknya. Namun demikian, setiap bab itu justru mengarahkan kita pada petunjuk-petunjuk, yang belum apa-apa kita diperkenalkan dengan tokoh yang “mungkin-pelaku”. Kita dibiarkan menebak-nebak, apa perannya dalam novel ini, terutama dalam mengungkapkan kasus. Entah dia benar-benar pelaku-nya, saksi, atau orang-orang yang terlibat secara teknis, seperti polisi, pathologist, kriminolog, psikolog, psikiater, yang pada akhirnya secara tidak langsung membantu penyelesaian kasus.
Bagi Dr. Liebermann, metode-metode penyembuhan hysteria melalui sentuhan alat-alat yang menyakitkan ke tubuh yang sakit, tidak dapat dipraktekkan lagi. Oleh karena itu Liebermann mempraktekkan metode-metode terapi yang digunakan Freud dalam pendekatan-pendekatan psikoanalisis. Walaupun tidak sepenuhnya pendekatan Freud digunakan. Sampai titik ini, ada beberapa bagian yang sama dengan IOM karya Rubenfeld, di mana Liebermann menyembuhkan tangan lumpuh pasiennya yang terkena hysteria. Bahkan ingatan saya berkali-kali tercampur aduk, sampai saya harus melihat kembali bagian cover-nya agar saya sadar bahwa buku yang saya baca adalah karya Frank Tallis.
Setelah saya membaca buku ini, dan membanding-bandingkannya dengan novel lain yang sejenis, saya menyadari bahwa terjemahannya bagus! Penokohannya lebih kaya karakter, dan Frank Tallis tidak berspekulasi mengenai sifat dan perilaku tokoh-tokohnya, beda dengan Rubenfeld yang sebagian besar “berspekulasi” karena menggunakan tokoh-tokoh nyata yang pernah hidup, dalam sebagian besar novelnya.
Lagi-lagi, kalo inget tentang kisah detektif, saya pasti langsung membandingkannya dengan Holmes. Soalnya penulis-penulis kisah misteri pasti menggunakan metode deduksi Sherlock Holmes yang luar biasa. Frank Tallis sedikit berbeda, tokoh utamanya mencampur deduksi-deduksi Holmes, lewat pemikiran Freud dan musik, analisa yang menggabungkan filsafat, seni dan psikologi. Keren!
Frank Tallis menggambarkan Vienna (Wina atau Wien) di tahun-tahun tersebut dengan sangat mendetail, di mana berbarengan dengan perkembangan seni yang luar biasa, masih ada sentimen-sentimen anti-semit yang tumbuh di negara tersebut.
Seperti novel misteri pembunuhan yang baik, setelah pembunuhan yang kemudian memperkenalkan tokoh-tokoh utama, selalu ada pembunuhan lain yang kali ini menantang para tokoh utama untuk segera menemukan pelakunya. Beda dengan pembunuhan pertama yang sangat “lembut” dan penuh kehati-hatian, pembunuhan kedua terjadi secara brutal dan sembrono. Liebermann pun berusaha agar pembunuhan yang ketiga tidak terjadi, berkat bantuan mantan pasiennya, Amelia Lydgate, yang luar biasa genius.
Frank Tallis, memulai novel pertamanya dengan “Itu adalah saat terjadinya badai besar. Aku ingat dengan baik karena ayahku—Mendel Liebermann—mengundangku untuk minum kopi di The Imperial. Aku curiga bahwa ia punya maksud tertentu…” sebuah kalimat pembuka sebelum bab pertama di mulai, dan ia mengakhirinya dengan kalimat yang sama persis, sebagai penutup petualangan Liebermann kali ini.
Baca deh! It is worth reading! Tapi saya rada terburu-buru bacanya karena ingin segera membuka “OUT”. Well, I’m in a good mood of reading thrillers.
-nat-





1 orang yang berkomentar:
aduh, 2 buku terakhir ini aku dah punya, tapi masih kena penyakit 'macet baca' heheh
Jadi sekarang lagi baca buku anak-anak yang tipis-tipis dulu deh.
Btw : aku dah pernah tuh posting yang Peter and The Starcatchers di
http://mon-secret-jardin.blogspot.com/2006/03/peter-and-starcatchers.html
Aku baca yang edisi bahasa Inggris. Waktu itu nemu buku ini didiskon di Gramedia tuh, sampe heran banget, buku bagus gini kog bisa di diskon ampe murah banget, cuma 50rb gitu, ck ck ck.... langsung aku samber deh, hahahaha.
Post a Comment